~ Jazakalloh Khoiron Katsiro atas kehadiran n supportnya dlm acra mabit MQS PI Thn baru 1432 Hijriah, smoga dpt brmanfaat n mnjadi jln amal n elmu. Amiin.. ~

Kamis, 13 Maret 2008

MQS BI Ke 25 "Detik2 Menjelang Sang Kekasih Tiada"

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Segalah puji hanya milik Allah kepada-Nya kita berbakti dan kepada-Nya kita memohon agar ditetapkan dalam hidayah aqidah yang lurus. Sholawat selalu tercurah kepada Rasulullah SAW tercinta, keluarga, sahabat dan ummatnya.

Menjelang dan setelah Rosulullah (Shollallohu ‘alaihi wasallam) wafat, begitu banyak kejadian yg bisa di jadikan hikmah dan pelajaran.
Seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya,
Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat dan umat islam.
Bagaimanakah detik-detik menjelang Rosululloh wafat, wasiat dan hikmah apa yang dapat diambil ?
Bagaimanakah keadaan umat islam setelah Rosulullah wafat, apakah yang terjadi pada umat islam ?

Bapak, Ibu, Sahabat-sahabat sekalian.
Divisi Dakwah Daarut Tauhiid Jakarta bekerja sama dengan Manajemen Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, mempersembahkan :

Malam Muhasabah Menuju Qolbun Salim-25 (MQS-25) Edisi Sirah Nabawiyah "Detik-detik menjelang sang Kekasih tiada"

Waktu :
Sabtu 5 April 2008 bertepatan dengan 28 Rabiul Awal 1429 H
Pukul 18:00 sd 06:00 keesokan harinya (menginap / Mabit)
Bertempat di Masjid Baitul Ihsan (BI) Bank Indonesia

Nara Sumber :
Ust. Hilman Rosyad Shihab, Lc.

Imam Qiyamullail & Muhasabah :
Ust. Ibnu Jarir, Lc.

Moderator & Kuliah Subuh :
Ust. Syam Abdul Fattah

Agenda :
Tasmi - Kajian Tematis & Dialog interaktif - Qiyamullail - Muhasabah - Dzikir Al-ma'sturat

Acara ini terbuka untuk umum, pria/wanita, ihwan/akhwat dan tidak dikenakan biaya.

Untuk informasi lebih lanjut dipersilahkan menghubungi :
DT Jakarta : 021-7235255
MQS Hotline (Kasmudi) : 021-70145049
Anto : 0816 -1403641
Yanie : 0813-1768-3906
Yayah : 021 - 99518109

Jazakumullah khoiron katsiiroo,
atas bantuannya dalam ikut menginformasikan acara kegiatan ini
Smoga jadi ladang amal dan dimudahkan untuk bisa hadir.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Tim Publikasi MQS-25)
http://www.majelisqolbunsalim.blogspot.com

Readmore »»

Selasa, 04 Maret 2008

Yaa Rabbi, Bagaimana Mungkin...!!

Oleh Miftahul Huda

Perlahan-lahan kehidupan ini mulai dapat kami nikmati, ‘enjoy your life‘ kata orang di sana. Masalah-masalah yang mengejar memang tak pernah hilang atau berhenti barang sejenak. Masalah itu masih ada, tak akan hilang sampai kami sendiri yang menyelesaikannya, tak bisa berharap dari orang lain meski sebenarnya masalah itu tanggung jawab bersama. Solusi yang realistis belum juga muncul, kami harus menanggung hutang yang tidak pernah kami cicipi wujudnya.

Mencari kerja masih terus diupayakan, apapun lowongannya. Memulai usaha sendiri praktis hampir mustahil tanpa ada sedikit pun modal yang kami miliki apalagi kami telah berkomitmen tidak akan pernah lagi berhutang untuk alasan apapun. Satu per satu panggian interview datang tanpa ada hasil yang jelas, mulai dari lowongan asli dari perusahaan bonafide sampai perusahaan ‘penipu’ yang berusaha mencari nasabah/investor untuk transaksi valasnya dengan berkedok membuka lowongan pekerjaan, kami datangi.

‘Life is not easy‘, memang hidup itu akan terasa berat jika kita tidak pernah tahu apa tujuan hidup ini. Ibarat orang berjalan di tengah gurun yang terik tanpa pernah tahu kea rah mana tujuannya, sejauh mata memandang hanya hamparan pasir yang ada. Terik sinar matahari makin menampakkan betapa tidak bersahabatnya kehidupan diluar sana dengan diri kita. Hingga hidup seperti hanya sekedar untuk mengejar oase-oase fatamorgana yang tampak rindang dan sejuk tapi hilang seketika kita sampai di sana. Mata air-mata air palsu bualan penglihatan manusia tak mampu menebus dahaga yang ada.

Tapi kami punya tujuan hidup. Beribadah, that’s all. Hanya karena alasan itu kenapa kami diciptakan di dunia ini dan hanya karena alasan itu pulalah sehingga kami masih ada di dunia saat ini. Hingga kami harus senantiasa bersyukur ketika diri ini masih dimampukan untuk beribadah kepada-Nya. Seorang telah banyak mengingatkan kami akan hal ini, pada masa-masa yang tidak cukup mudah bagi kami saat ini. Saat segala keterbatasan melingkupi kehidupan kami, meski kami tak akan pernah mengatakan bahwa saat ini kami sedang mengalami ‘kekurangan’. Sungguh Allah SWT telah mencukupi rizqi untuk kami meskipun bagi sebagian orang kondisi kami berkekurangan. Rabb kami pasti memiliki rencana besar di balik semua ini, Dia pasti telah memiliki rasio dan rumusan yang pasti benar atas ‘jatah’ rizqi kami di dunia ini. Jikapun suatu saat telah habis, maka itulah giliran kami menghadap-Nya untuk mengharap bentuk cinta-Nya yang lain di akhirat nanti.

Hari ini memang seperti hari lainnya, hanya saja dana yang seharusnya digunakan untuk makan sehari-hari harus berkurang alokasinya karena aku gunakan untuk ongkos ke Jakarta memenuhi panggilan interview sebuah perusahaan pagi tadi. Seperti biasa pula kami makan bersama-sama, aku, bidadariku tercinta, dan kedua penyejuk hati kami, Salsabila dan Azzam. Dua piring nasi dengan warna hitam dari kecap yang sangat mewarnai telah disiapkan. Memang itu yang menjadi favorit kami saat ini, malah terkadang meski lauk masih ada Salsabila dan Azzam tetap minta suapan nasi kecap tanpa lauk. Bergantian mereka minta disuapkan entah dari aku atau sang bunda, yang posisinya paling dekat dengan mereka. Alhamdulillah hingga pada paruh terakhir nasi di piring tersisa, mulut-mulut mungil mereka masih tetap terbuka. Tapi rupanya kali ini keaktifan bermain mereka membutuhkan energi cukup besar sehingga mereka makan cukup lahap. Yaa Rabbi, bagaimana mungkin tanganku menyuapkan nasi ke mulutku sementara mulut-mulut mungil mereka masih terbuka lebar… yaa Rabbi, bagaimana mungkin diri ini tega mengharapkan masih akan tersedia sisa nasi dari mereka setelah mereka kenyang nanti. Yaa Rabbi, aku percaya bahwa diri ini telah Engkau berikan rizqi tersendiri, Engkau Maha Kuasa sehingga aku tak akan pernah bisa mengetahui cara-Mu menyampaikan rizqi kepadaku.

Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini, yang sering tak mampu menyadari, isteriku tercinta pasti lebih sering mengalami hal ini. Mulutnya tetap mampu berkata kenyang meski lambungnya berteriak lapar. Beberapa sendok nasi tambahan yang kuselipkan sembunyi-sembunyi pasti tak akan cukup membungkam teriakan lapar lambungnya. Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini. Subhanallah…ternyata masih ada beberapa sendok nasi tersisa. Maha Besar Allah SWT yang telah membuat lambung ini tak lagi perih. Alhamdulillah karena rasa lapar itu telah hilang. Laa hawla walaa quwwata illa billah…

~Abu Hasan~
(Dari catatan harian seorang teman)
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat atasnya, dan memudahkan terbukanya pintu rizqi untuknya. Amiin...

Readmore »»

Kamis, 14 Februari 2008

Cahaya Subuh

Oleh Galih Ari Permana

Suara adzan subuh menggema keseluruh penjuru alam, seruannya terbawa hembusan angin pagi untuk mengetuk pintu-pintu setiap hamba agar memulai pagi ini dengan bersujud kepada-Nya. Tiada yang lebih menyenangkan selain dapat mengawali hari dengan shalat subuh berjama’ah.
Sungguh besar manfaat yang bisa diperoleh dari shalat subuh berjama’ah. Dalam suatu hadits yang shahih Rasulullah pernah bersabda, ”Barangsiapa yang shalat subuh berjama’ah maka ia bagaikan shalat sepanjang malam, ” itu dari segi pahala. Untuk kesehatan, kita bisa menghirup udara yang benar-benar bersih yang sangat sulit didapat di wilayah jabotabek, lumayan untuk membersihkan paru-paru.

Seperti biasa aku sudah bersiap-siap mendatangi panggilan menuju kemenangan itu. Sungguh syukur aku panjatkan kepada-Nya atas anugerah hidayah ini, hidayah berupa kesempatan untuk dapat menjawab segala seruan-Mu. Kebiasaan shalat shubuh berjama’ah mampu aku pertahankan sampai sekarang, sungguh karunia yang patut disyukuri. Bukan hal yang mudah, tapi tidak juga dianggap sulit membiasakan bangun pada waktu subuh, hanya diperlukan komitmen yang kuat dan sedikit usaha maka kebiasaan itu akan terbangun. Yang sulit adalah membangun komitmennya ini, butuh perjuangan.

Kakiku melangkah menuju masjid yang tidak jauh dari rumahku, hanya beda satu blok saja. Lagi-lagi aku beruntung rumahku tidak jauh dari masjid, dan memang sudah menjadi impianku untuk bisa tinggal di sebuah rumah yang letaknya harus berdekatan dengan masjid, dan Allah mengabulkan mimpi itu.
Derap langkah kakiku terus menyusuri jalan yang penuh dengan hamparan rahmat, setiap aku langkahkan kaki kananku maka diangkatlah aku satu derajat. Ketika kaki kiriku bergantian melangkah, terhapuslah satu dosaku. Suara binatang malam yang sayup-sayup terdengar menjadi saksi atas setiap langkahku di akhirat kelak, semoga.

Ba’da shakat sunnah, iqamat pun dikumdangkan tanda shalat subuh akan segera dimulai. Dua shaf terbentuk, membentuk garis lurus selurus qalbu-qalbu mereka. Suara takbir menggema tanda imam sudah memulai shalat subuh dan mutiara-mutiara rahmat pun mulai bercucuran membasahi jiwa-jiwa pencari Tuhan. Terlihat memang hanya dua shaft, namun seandainya mata lahir ini mampu melihat akan terlihat barisan para malaikat pada shaf ketiga hingga shaf terakhir masjid, yang ikut serta mengamini setiap lafadz-lafadz doa yang terucap.
Subuh ini yang menjadi imam adalah Pak Kholis, pria yang berumur empat puluh tahunan itu memang kerap menjadi imam dalam setiap shalat wajib. Hal itu dikarenakan hafalan qurannya yang paling banyak, kalau aku perhatikan juz 28 – juz 30 sudah ada diluar kepalanya. Pak Kholis yang janggutnya tidak kalah panjang dengan janggut yang dimiliki Pak Pur ini terkenal dengan As Sudaisnya Al-Kautsar.

Dalam mengimami shalat subuh, Pak Kholis senang sekali membacakan surat Ash Shaff, surat ke-61 pada juz 28. Surat ini memang memiliki makna yang cukup dalam, didalamnya begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik. Sang imam sering kali mengulangi bacaannya apabila telah mencapai ayat kesepuluh, yang berbunyi, ” Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” Sungguh ayat yang mampu menggetarkan setiap insan yang mendengarnya, yang dapat menimbulkan sejuta tanya pada diri akan perniagaan apakah yang saat ini kita lakukan. Beberepa makmum mulai terdengar suara isak begitu ayat ini diulang dua kali. Suasana pun hening penuh khusyuk di bawah guyuran kalam Ilahi.

Sekitar delapan menit shalat subuh pun selesai dilaksanakan, cukup sebentar. Delapan menit yang tidak mampu dilewati oleh jutaan muslim yang asyik terlelap berselimutkan kulit nafsu yang setan kenakan disekujur tubuhnya. Diri mereka terlalu lelah setelah tiga jam menemani Piala Champion yang sudah mulai bergulir dan ditayangkan oleh salah satu televisi swasta nasional. Yang lebih aneh lagi para petugas ronda yang mendapat giliran mengamankan lingkungan semalam suntuk, namun begitu masuk waktu subuh mereka membubarkan diri tanpa menyahut sedikitpun seruan adzan yang dikumandangkan. Mereka memang berjasa mengamankan lingkungan, namun bagaimana dengan keamanan mereka di akhirat kelak.
Cahaya terpancar dari rumah Allah yang mulia itu. Pancaran cahaya yang berasal dari kekhusyuan yang tercipta dari para pencari Tuhan. Pancaran cahayanya mengalahkan gemerlap kelap-kelip bintang yang masih sangat jelas terlihat di cakrawala yang membentang. “Ya Rabb terimalah sujud kami di pagi ini, jadikanlah pembuka pintu rahmat-Mu dan berilah kami kekuatan untuk melakukan yang terbaik pada hari ini."

Tambun, 7 Februari 2008
http://www.galih0302.multiply.com/

Readmore »»

Kamis, 24 Januari 2008

Bantu Aku Ketika Sedang Berbuat Zalim

Oleh Syamsul Arifin
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (HR Bukhari-Muslim)
Bantulah saudara kita ketika sedang dizalimi maupun ketika sedang berbuat zalim.
Dalam kacamata umum, melihat/mengetahui ketika saudara kita sedang dizalimi merupakan suatu hal yang mungkin relatif mudah, (terlepas dari apakah nanti bisa membantu/menolongnya dari penindasan/penzaliman).

Namun, hal yang lebih sulit yaitu ketika kita membantu saudara kita ketika ia sedang berbuat zalim. Baik itu menzalimi dirinya sendiri maupun ketika ia sedang menzalimi orang lain.
Terkadang, muncul perasaan tidak enak, merasa sungkan, khawatir tersinggung, takut salah, dll. Padahal, budaya saling mengingatkan itu merupakan bagian dari kaum muslimin semenjak dulu. Bahkan, seharusnya, kita sebagai seorang muslim, meminta dinasihati/diingatkan.
Seorang manusia pasti tidak terlepas dari ke-khilaf-an. Kesempurnaan seorang manusia bukanlah karena ia tidak pernah salah, namun ketika ia menjadi ingat ketika melakukan kesalahan.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A'raaf: 201)
Ada beberapa catatan yang mungkin bisa kita lakukan ketika berusaha mengingatkan saudara kita.

• Awali dengan niat yang suci, lurus karena Allah agar saudara kita tersadar dari perbuatan khilafnya, mengingatkan bukan untuk memalukannya, maupun membuatnya merasa terpojok dengan merasa diri sebagai orang yang paling benar dan membuatnya seakan-akan dia adalah manusia yang paling bersalah di dunia ini

• Gunakan hati, karena hati hanya bisa disentuh oleh hati pula. Bukan sekedar kata-kata kering yang meluncur dari lisan yang tidak dibalut cinta, dan bukan berasal dari pribadi yang memiliki rasa sayang kepada sesama saudara

• Sebisa mungkin buatlah peringatan tersebut menjadi sebuah peringatan pribadi, atau diingatkan secara personal, untuk menghindari rasa malu dan juga sifat membela diri secara berlebihan. Namun jika memang diperlukan, sebagai pelajaran bagi saudara-saudaranya yang lain, tidak ada salahnya mengingatkannya secara umum dan terbuka, namun tidak diarahkan langsung ke orang yang bersangkutan.

• Kalau perlu marah, marahlah. Lakukan pada orang yang tepat, diwaktu dan tempat yang tepat, dengan kadar yang tepat, dan karena alasan yang tepat pula.

• Gunakan metode-metode yang mungkin dilakukan, dengan melihat skala dari kezaliman dan kemampuan yang kita miliki. Mencegah kezaliman dengan tangan (kekuasaan, -red), atau mencegahnya dengan lisan atau perkataan (termasuk juga melalui tulisan).

• Bersikap bijaklah dalam memandang suatu permasalahan. Milikilah ilmu dan pandangan yang luas dalam bersikap, karena bisa jadi, peringatan yang kita lakukan malah membuat masalah menjadi semakin besar, atau bisa juga malah menciptakan suatu permasalahan baru. Beberapa hal yang bersifat parsial, cabang maupun tambahan seharusnya tidak lebih diutamakan dari hal-hal yang bersifat pokok dan prinsipil.

• Terakhir, sadari, bahwa setiap insan memiliki potensi untuk berbuat salah, dan terkadang ia/mereka tidak melihat/mengetahui ketika berbuat salah. Bukankah orang yang berada dalam hutan tidak dapat mengetahui gambaran hutan secara keseluruhan. Karena itu, dibutuhkan semangat saling ingat-mengingatkan, bantu-membantu dalam bingkai iman dan rasa cinta karena Allah.

Janganlah ragu tuk membantuku ketika diriku sedang berbuat zalim…
“… Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya…”

Jakarta, 22 Januari 2008
http://genkeis.multiply.com/

Readmore »»

Kamis, 17 Januari 2008

Nasehat Imam Al Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.
Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185).

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam
Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah
SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "MENINGGALKAN SHOLAT".
Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Readmore »»

Jumat, 11 Januari 2008

Selamat Tahun Baru Islam 1429 H

Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa

Tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah 1 Muharram, bukan hari raya agama, meski dinyatakan sebagai hari libur nasional. Perayaan Tahun Baru Islam juga tidak semeriah perayaan Tahun Baru Masehi.
Namun Tahun Baru Hijriah memiliki makna penting bagi umat Islam, menjadi bagian sejarah Islam yang menandai perjuangan berat seorang Rasulullah Muhammad Saw dalam menyebarkan risalah Islam dan menjadi sebuah awal perubahan bagi umat Islam, terutama dari sisi spiritual.

Tahun Baru Hijriah yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw bersama kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, bukan sekedar hijrah secara fisik tapi juga hijrah secara drastis dari sisi mental. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab tentang hijrahnya Nabi Muhammad Saw, bahwa "Hijrah itu membedakan antara yang hak dan bathil. "
Oleh sebab itu, umat Islam selayaknya tidak memandang tahun baru Islam hanya sekedar pergantian tahun biasa seperti ketika kita merayakan tahun baru Masehi. Tapi mencontoh semangat hijrah Rasulullah terutama dari sisi mental dan spiritual, dengan lebih memurnikan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah Swt. Menguatkan tekad dan niat untuk melakukan pembaharuan drastis dan membebaskan diri dari kebathilan dan dari cinta dunia menjadi cinta hanya kepada Allah Swt.

Mampukah kita? Melakukan perubahan drastis memang bukan perkara yang mudah, butuh kemauan kuat dari dalam diri kita sendiri untuk bertindak revolusioner. Namun tak ada kata susah, jika kita memang ingin mengisi sisa waktu kita hidup di dunia dengan perbuatan baik dan mengejar pahala semata-mata karena Allah Swt. Kalau tidak dari sekarang kapan lagi?

Yang paling ringan mungkin bermuhasabah dan sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan yang merugikan amaliyah diri kita sendiri. Apa saja kebiasaan yang merugikan itu, mungkin berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain, dan diri kita sendirilah yang paling tahu kelemahan masing-masing. Mengutip kalimat Kyai Haji Abdullah Gymnastiar alias AA Gym, mulailah dari hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang. Mudah-mudahan, perubahan-perubahan kecil ini akan makin mendewasakan kita dan meningkatkan kecintaan kita padaNya.

Yang terpenting adalah, mari kita luruskan niat untuk "hijrah" karena mengharapkan ridho Allah Swt semata. "Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya, hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasulnya... " (HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita ke jalanNya dan serta memberi hidayah dan rahmatNya pada kita semua, dan pada bangsa ini yang sedang dilanda ujian musibah dan bencana bertubi-tubi.

Selamat Tahun Baru...

Jakarta, 1 Muharram 1429 H
rubina_zalfa@yahoo. Com

Readmore »»

Selasa, 08 Januari 2008

MQS PoNdoK InDah "Momentum Hijrah"

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segalah puji hanya milik Allah kepada-Nya kita berbakti dan kepada-Nya kita memohon agar ditetapkan dalam hidayah aqidah yang lurus. Sholawat untuk rasulullah tercinta, keluarga, sahabat dan ummat.

Bapak, Ibu, Sahabat sekalian. Menuju Qolbun Salim (MQS) bekerja sama dengan Manajemen Masjid Raya Pondok Indah, mengundang Anda sekalian untuk hadir dalam acara :

Malam Muhasabah Menuju Qolbun Salim
Masjid Raya Pondok Indah - MQS PI
Edisi menyambut TAHUN BARU HIJRIYAH
tema : " MOMENTUM HIJRAH !!"

Waktu :
Rabu 9 Januari 2008 / 1 Muharram 1429 H
Pukul 18.00 sd 06.00 pagi hari kamis . (TAHUN BARU ISLAM 1429 H)

Tempat : Masjid Raya Pondok Indah (Samping Mall Pondok Indah)

Agenda : Tausiyah interaktif - Qiyamullail - Muhasabah & Dzikir - Kuliah Subuh
Narasumber diantaranya : Ust. Tifatul Sembiring, Ust. Ibnu Jarir. Lc, Ust. Syam Abdul Fattah dll.

Acara ini terbuka untuk umum, ikhwan/akhwat dan tidak dikenakan biaya.

Informasi
MQS HOTLINE : 021-70145049
DT Jakarta : 021-7235255
Masjid Pondok Indah : 021-7666165
Saman Ishak : 0812-8624761
Abdul Fattah : 0815-9635384

Mohon bantuannya untuk menyebarkan dan menginformasikan acara kegiatan ini kepada siapa saja.

Jazakumullahi khoiron katsiron.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~MQSpublishing~
http://www.menujuqolbunsalim.blogspot.com/
email & YM : qolbun.salim@yahoo.com

Readmore »»

Rabu, 26 Desember 2007

MQS 24 "Ketika Aqidah Mulai Dipertanyakan"

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Segalah puji hanya milik Allah kepada-Nya kita berbakti dan kepada-Nya kita memohon agar ditetapkan dalam hidayah aqidah yang lurus. Sholawat untuk rasulullah tercinta, keluarga, sahabat dan ummat.

Apa kabar Anda Sahabat sekalian ? semoga Anda dan keluarga dalam keadaan sehat dan senantiasa semangat untuk terus memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat. Bapak, Ibu, Sahabat sekalian. Divisi Dakwah Daarut Tauhiid Jakarta bekerja sama dengan Manajemen Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, kembali mengundang Anda sekalian untuk hadir dalam acara :

Malam Muhasabah Menuju Qolbun Salim-24 (MQS-24) Edisi Khusus AKHIR TAHUN MILADIYAH
tema : " Ketika Aqidah Mulai Dipertanyakan !!"
Waktu : Senin 31 Desember 2007 bertepatan dengan 21 Dzulhijjah 1428 H
Pukul 18:00 sd 06:00 keesokan harinya (menginap / Mabit)
Bertempat di Masjid Baitul Ihsan (BI) Bank Indonesia.
Nara Sumber :
DR. Attabiq Lutfie, MA

Adnin Armas, M.A.
Kandidat doktor di ISTAC UIAM (International Institute of Islamic Thought and Civilization - Universitas Islam Antarabangsa MalaysiaAktif sebagai peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization).

Ust. Abdul Aziz Abdul Ra'uf, al-hafidz
Pemimpin Lembaga Tafsir Qur'an Al-Hikmah Jakarta

Ust. Hari Sanusi
(Daarut Tauhiid Jakarta)

Agenda :
Tasmi - Kajian Tematis & Dialog interaktif - Qiyamullail - Muhasabah - Dzikir Al-ma'sturat

Acara ini terbuka untuk umum, pria/wanita, ihwan/akhwat dan tidak dikenakan biaya.Untuk informasi lebih lanjut dipersilahkan menghubungi :
DT Jakarta : 021- 7235255
MQS Hotline (Kasmudi) : 021- 70145049
Anto : 0816 -1403641
Mulyana : 0818 - 169421
Yanie : 0813-1768-3906
Yayah : 021 - 99518109

Mohon bantuannya untuk menyebarkan dan menginformasikan acara kegiatan ini kepada siapapun.

Jazakumullahi khoiron katsiron.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Readmore »»

Selasa, 11 Desember 2007

Qurban 12 Bulan


Oleh Eriman Muslim

Aku tak percaya. Insya Allah ini kali kedua aku akan berqurban. Walaupun bila dilihat dengan angka konsumtifisme, tidak akan cukup. Tapi tidak ada salahnya aku mecoba. Untuk berniaga dengan Allah. Karena Dialah, aku memiliki pendapatan, isteri, anak dan segala kenikmatan dunia lainnya. Akhir tahun 2005. Aku mulai berfikir, bagaimana berqurban dengan cara yang ‘tidak’ memberatkan. Apa maksudnya? Bukankah ibadah Haji dan Qurban itu hanya untuk orang yang mampu? Logikaku seolah melakukan argumentasi pada diriku. Dan beberapa saat kemudian, aku mengiyakan. Tapi suara lain. Bening, jernih dan seolah tak berbeban, membisiki lain. Datang dari lubuk nuraniku sendiri. Memang kita serba kekurangan, tapi bisakah memintakan padaNya dengan sedikit pengorbanan? Sebagai sarana mendapatkan rezeki yang lebih berkah dan cukup buat kehidupan kita? Bukankah reseki itu dari Allah? Aku terpana, menatap kosong. Apa yang mesti dilakukan di tengah kegamangan ini?

Lagi-lagi aku tersentak. Bahwa urusan rezeki itu bukan kita yang mengatur. ALLAH saja. Kucoba bermusyawarah dengan isteriku. “Dek, gimana yah. Kalau tahun ini kita qurban?” “Dengan apa kak?” tanya isteriku “Menabung, dek” “Kakak, ingin mengusulkan Program DKM di kantor adalah Tabungan Qurban” Kebetulan aku diamanahi menjadi Ketua DKM di kantorku. “Caranya?” tanya lagi isteriku. “ Caranya adalah dengan menyisihkan gaji bulanan sebesar domba yang dapat dijangkau” Aku merasa yakin.

Kemudian, selaku DKM di perusahaan, kamipun menggagas tabungan qurban untuk seluruh karyawan yang berjumlah kurang lebih 300-an orang. Mulai dari level operator hingga manajer. Tujuan yang hendak dicapai adalah meringankan pemenuhan qurban dengan cara dipotongkan gaji setiap bulan sesuai qurban yang diinginkan. Kami memberikan beberapa pilihan qurban, agar semua karyawan dapat leluasa berqurban sesuai dengan kemampuan kocek masing-masing. Akhir Tahun 2005, kami sosialisasikan kepada seluruh karyawan. Mulai dari Bandung, Jakarta, Cirebon dan Surabaya. Tentang Program Tabungan Qurban ini. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan, 25 orang dari 300 orang mendaftar menjadi penabung Qurban.
Walaupun hal-hal miris kami temukan dari lisan teman-teman:
“ Wah, boro-boro qurban, bulanan aja kami belum cukup”. “Masih banyak hutang, nanti aja”. “Pengen sih, tapi…” Dsb.
Memang Qurban disyariatkan untuk orang yang mampu. Namun kami melihat, bahwa budaya di kita bukan karena tidak mampu untuk berqurban. Lebih kepada sejauh mana kita berniat.

Yah niat!
Bila kita lihat para sahabat radiallahu anhu saja, kita belum seberapa. Mereka teramat miskin. Mungkin lebih miskin dari kita. Tapi apa yang dilakukan oleh mereka saat diizinkan tidak berperang. Dikarenakan mereka tidak memiliki kuda, perbekalan secukupnya, serta senjata yang layak. Bahkan apa kata baginda Rasulullah yang Mulia, ”Kalian mendapatkan rukhsah. Pulanglah ke rumah masing-masing!”. Mereka semua menangis. Bahkan diriwatkan sepanjang hari menangis.
Tapi ada satu orang yang tidak sekedar cukup dengan menangis. Menangis saja tidak menyelesaikan masalah. Ia harus pergi, walau harus menempu perjalanan ratusan kilo. Hanya dengan berjalan kaki saja. Tekadnya sudah bulat. Ia ambil biji-biji korma. Dikumpulkan dan dimasukkan dalam karung gembolan. Setelah itu berangkat. Menyusul Rasullah dan kaum muslimin pergi ke Tabuk.

Di tengah perjalanan, ia menemukan oase. Badan yang letih dan payah. Mendadak serasa segar dan kuat. Kala melihat air yang begitu menyegarkan. Di tengah terik gurun pasir. Ia tidak mengendarai kuda, onta atau himar. Ia hanya mengandalkan dua kakinya. Kaki yang sebenarnya telah dibebaskan dari pergi berjihad. Tapi tidak bagi sahabat ini. Ia tetap pergi. Kala air kan masuk dalam mulutnya. Ia teringat pada KekasihNya. “Sudahkan, Rasulullah minum air ini?” gumamnya “Aku tak akan minum air ini, sampai Rasulullah meminumnya”., tekad sahabat ini. Ia berjalan terus mengejar, sampaik akhirnya dilihat oleh Rasulullah. Sebagai orang yang sendirian di tengah gurun. Kemudian pingsan. Rasulullah bertanya padanya, ”Apa yang telah kaulakukan, wahai sahabatku. Padahal di dalam tempat minummu masih terisi penuh?”
Masih dalam sadarnya, ia bercerita akan penemuan oase di tengah gurun. Ia tidak mau meminum air itu. Kala teringat, jangan-jangan Rasulullah belum meminumnya. Subhanallah siapakah sahabat ini? Dialah Sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari. Kemiskinan tidak menghalagi beliau untuk berperang. Niat yang tulus yang melahirkan azzam disertai amal. Telah melahirkan kemenangan yang besar.

Meskipun, jumlah kami sedikit. Berqurban domba pun dengan yang paling murah. Tapi dengan niat ikhlas serta ikhtiar, kami beberapa karyawan bisa berqurban. Biarlah kami serahkan semuanya pada Allah. Semoga qurban kami diterima olehNya. Amin.
Semua peserta begitu antusias. Tak terkecuali aku dan isteriku. Seakan tidak percaya. Kala domba yang diantar ke rumah, adalah hasil jerih payah menabung selama 12 bulan. Dengan dipotong gaji.

Sambil bersyukur kepada Allah SWT. Aku ingat-ingat kembali. Sekilas perasaan teman-temanku yang berqurban untuk pertama kali ini:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan (Adh Dhuha: 11)”.
Ternyata, bila kita masih punya niat dan ikhtiar. Apapun bisa dilakukan. Dan ternyata sekedar niat itu gratis. Tidak berbiaya. Tapi dengan niat itu, membuka sejumlah jalan-jalan rezeki kami (29:69). Semoga seterusnya kami bisa terus berqurban. Semogapun kami bisa menunaikan ibadah Haji. Amin.

Terima kasih Ya Allah.
Bandung, 07 November 2007
Eriman@multiply. Com

Readmore »»

Kamis, 06 Desember 2007

Pengajian MMQ Istiqlal :"Silaturahim Akbar Pendengar MQ Pagi"

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Bersama ini kami mengundang muslimin/muslimat dimana saja berada untuk menghadiri Pengajian Majelis Manajemen Qolbu : "Silaturahim Akbar Pendengar MQ Pagi"
yang InsyaAllah akan diselenggarakan pada :

Hari/tanggal : Ahad, 9 Desember 2007Waktu : 12:00 - 15:00 WIB
Penceramah : KH. Abdullah Gymnastiar
Tempat : Masjid Istiqlal, Jl. Taman Wijaya kusuma, Jakarta Pusat
Pengajian ini terbuka untuk umum, dan tidak dipungut biaya.
Demikian undangan ini kami sampaikan, semoga Allah SWT meridhoi dan memudahkan langkah kita. Amin ya Rabbal Alamin.

Jazakumullah khoiron katsiiroo,
atas kehadiran dan bantuannya dalam ikut penyebaran info Pengajian MMQ Istiqlal ini.

Wassalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh,

Humas - Daarut Tauhiid Jakarta
http://www.dtjakarta.or.id/
Jalan Cipaku I no. 43 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12170
Telp : (021) 723-5255 Fax : (021) 723-5258

Readmore »»

Rabu, 05 Desember 2007

Aa Gym Menjawab di Kick Andy Metro TV

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Pretopik: Aa Gym Menjawab di Kick Andy Metro TV,
kamis malam jam 10, tgl 6 Des 2007

Ini penampilan pertama Abdulah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym di sebuah talk show. Tidak mudah meyakinkan dai yang dikenal dengan lagunya 'Jagalah Hati' ini untuk tampil di Kick Andy. Pasalnya, selama ini dia merasa didzolimi oleh pers setelah berpoligami.Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Abdullah Gymnastiar menyatakan bersedia. Semua pertanyaan yang diajukan Andy Noya dijawabnya dengan terbuka. Mulai dari alasan mengapa sampai dia tega menyakiti hati istri dan keluarga dengan kawin lagi, bagaimana perasaannya 'ditinggal' oleh para pengagumnya, sampai isu bisnisnya hancur setelah berpoligami.''Ini cobaan yang berat dalam hidup saya. Tapi dalam perjalanan waktu ke depan saya yakin ada hikmah yang dapat dipetik,'' ujarnya.

Dengan suara bergetar Aa Gym mengungkap perasaan yang harus dipendamnya selama beberapa tahun terakhir ini. Pria yang bertutur lembut ini mengaku beberapa tahun terakhir hidupnya tidak bahagia. Dia merasa kehidupannya bagaikan sebuah mesin yang sedang berjalan dan tidak bisa dihentikan. ''Saya begitu sibuk. Dari satu acara ke acara lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan untuk mengejar waktu, saya sering naik helikopter atau pesawat khusus. Saya tidak punya waktu lagi untuk urusan pribadi,'' ungkap ayah tujuh anak ini.Bahkan untuk bertemu dengan kedua orangtua yang dia cintai pun tidak pernah dapat terlaksana. ''Saya rindu dan ingin bertemu orangtua tapi jadwal begitu padat. Saya sudah menyadari ada yang salah dengan kondisi ini. Saya jadi jarang bertemu dengan istri dan anak-anak. Tapi saya tidak berdaya. Saya tidak bisa menghentikan mesin ini.''

Maka, ketika pria 45 tahun ini memutuskan untuk menikah lagi, dan akibat keputusannya itu dia ditinggalkan oleh sebagian besar 'umatnya', Aa Gym mengaku semua itu merupakan kehendak Allah untuk menghentikan mesin kehidupannya yang berputar telalu cepat.''Ini cara Tuhan agar saya mempunyai waktu untuk lebih memperhatian keluarga. Ini cara yang halal, yang diijinkan oleh agama,'' ujarnya masih dengan suara bergetar.

Mengenai bisnisnya yang terganggu akibat banyak pengagumnya yang menarik diri setelah dia menikah lagi, Aa Gym juga mensyukuri dan mengambil hikmahnya. ''Sejak awal saya juga merasakan semua kegiatan bisnis yang bertumpu pada pengultusan individu tidak akan sehat dan tidak akan bertahan lama,'' ujarnya.Dengan kondisi tersebut, secara alamiah bisnis yang dipimpinnya di, bawah payung Manajemen Qolbu Corporation, tersaring secara alamiah. ''Unit bisnis yang mengandalkan saya sebagai pribadi, terpaksa tutup. Tapi bisnis lain yang dikelola secara profesional, sampai sekarang tetap bertahan.''

Aa Gym tetap pada pendiriannya bahwa berpoligami adalah keputusan yang tidak menyalahi agama dan prinsip hidupnya. ''Kita bisa lihat di sekeling kita, masih ada yang memilih jalan yang dilarang agama. Apa yang saya lakukan tidak menyalahi agama.''Pada bagian kisah tentang adiknya yang lumpuh dan kemudian meninggal, pria yang gemar berolahraga petualangan ini tidak kuasa membendung tangisnya. Kepada Andy Noya dan penonton di studio, Aa Gym mengakui adiknya yang cacat itu merupakan sumber inspirasinya dan menjadikan dirinya seperti sekarang ini.Adiknya yang sudah lumpuh waktu itu tetap bertekad melanjutkan kuliah ke fakultas ekonomi Universitas Indonesia. Padahal untuk ke kuliah dan beraktivitas, Agung, sang adik, harus dibopong. Aa Gym sebagai kakak termasuk yang paling sering membopong adiknya ke tempat kuliah.

Suatu hari, Aa Gym tak kuasa untuk melemparkan pertanyaan kepada Agung. ''Dik, kata dokter sakitmu sudah parah sekali. Tapi adik kok tidak pernah mengeluh?'' Sang adik tersenyum lalu menjawab, ''Untuk apa mengeluh? Mengeluh akan membuat orang lain susah. Kalau orang-orang beramal untuk bekal di surga nanti, saya ingin agar kesabaran saya ini bisa menjadi bekal nanti.''Mendengar jawaban itu Aa Gym tersadar. Betapa mulianya hati sang adik. Bahkan Agung pernah mengatakan apa pun yang dilakukan Aa Gym tidak akan sempurna jika tidak mengikuti jejak Nabi Muhammad. ''Itulah titik balik dalam kehidupan saya sehingga saya bisa seperti sekarang ini,'' ungkapnya.

Di Kick Andy pimpinan Pesantren Daarut Tauhid ini juga bercerita tentang kenapa dia kerap memakai sorban, bagaimana ketika di SD dia terpaksa jualan jambu milik tetangga, dan bagaimana saat mahasiswa dia harus mencari uang dengan menjadi supir angkot. Termasuk bagaimana dia menghidupi keluarga dengan jualan bakso. ''Subuh-subuh saya sudah ke pasar beli tulang sumsum untuk kuah bakso.'' Tapi mengapa sang istri waktu itu terganggu dengan profesi sang suami? ''Karena setiap hari jualan bakso, badan saya bau bakso semua. Istri gak tahan dan sering mau muntah,'' ujar Aa sembari tertawa.

Banyak kisah suka dan duka dalam perjalanan hidupnya yang dia ungkapkan di Kick Andy.Aa Gym juga menjawab semua tudingan terhadapnya. Sebuah wawancara tanpa batas dengan sang tokoh. Di ujung acara, Aa Gym dipertemukan dengan 'Aa Jimmy', yang selalu menirukan Aa Gym di News. Com. Apa yang terjadi? Marahkah Aa Gym?

Sumber : http://www.kickandy.com/pretopik.asp

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

~MQSpublishing~
www.menujuqolbunsalim.blogspot.com
email & YM : qolbun.salim@yahoo.com

Readmore »»

Rabu, 14 November 2007

Terima Kasih Sudah Membuatku Menangis


Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa

"Don't judge a book from its cover", begitulah kata bijak yang sering kita dengar untuk mengingatkan agar kita tidak menilai orang lewat penampilannya, karena penampilan lahiriah bisa menipu kita. Orang yang dari luarnya terlihat hebat, belum tentu memiliki hati dan pemikiran yang hebat. Sebaliknya, orang yang di mata kita terlihat sangat sederhana, belum tentu memiliki hati dan pemikiran yang sama sederhananya.

Pelajaran itu saya alami dari sosok seorang teman di kantor, yang di mata saya dan di mata sebagian teman-teman saya, selama ini terlihat sebagai sosok yang "selengek"an, cuek dan dianggap masih ABG alias Anak Baru Gede. Usianya memang relatif masih muda, masih di awal 20-an, sebut saja namanya Ikhwan. Tingkahnya yang kadang masih seperti ABG, terkadang membuat kami tertawa. Apalagi penampilannya yang jauh dari rapi, terutama rambutnya, yang menurut teman saya itu memang jarang bahkan enggak pernah disisir kalau habis mandi. Kebayang kan...

Awalnya, saya melihat sosok Ikhwan sebagai sosok anak muda lazimnya, yang baru melangkah dewasa. Yang masih senang hura-hura, kongkow-kongkow ke sana kemari sama teman-teman seusianya, tidak seperti teman-teman kantor lainnya, terutama yang laki-laki, yang memang mayoritas sangat religius dan Islami. Tapi ternyata, anggapan saya itu salah besar! Ketika suatu petang, selepas sholat maghrib saya melihatnya sedang membaca al-Quran, bukan cuma membaca tapi juga mencoba menghapal. Besok-besoknya, saya melihat teman saya itu bertilawah dengan rutin.

Awalnya, saya cuma memperhatikan saja sambil bergumam di dalam hati, "Wah, ternyata ni' anak rajin juga baca Qurannya. Dihapal lagi...." Saya sendiri, membaca Qur'an saja tidak rutin, apalagi kepikiran buat menghapal. Terbersit rasa salut pada teman saya itu, tapi saya tidak pernah bertanya secara langsung tentang kebiasaannya itu. Hingga suatu sore... Ketika saya secara tak sengaja ngobrol panjang dengan teman saya itu, sayapun menangis dibuatnya. Saya menangis karena saya tidak bisa seperti teman saya itu. Saya menangis karena saya iri dengan keikhlasan, kebaikan dan ketaqwaannya sebagai seorang Muslim.

Ternyata, di balik penampilannya yang "selengek"an, teman saya menyimpan pemikiran-pemikiran yang besar, yang begitu peduli dengan kondisi umat Islam selama ini, yang begitu berhati-hati menjaga perilakunya sebagai seorang Muslim dan sangat mencintai serta menghormati ibunya. Subhanallah....
Sore itu, teman saya bercerita banyak tentang kehidupannya dan bagaimana al-Quran mengubah jalan hidupnya, menjadi sosok yang sangat mencintai Islam.
"Kalau saya melihat orang Islamnya, saya mungkin enggak mendalami Islam, mbak, " kata teman saya itu.
"Tapi saya membaca al-Quran dan saya menemukan ajaran-ajaran dalam al-Quran yang begitu menyentuh perasaan saya, " ujarnya. Saya mengangguk-angguk.
"Itulah sebabnya saya selalu mencoba rajin tilawah dan menghapalnya. Mbak tahu kenapa?" tanyanya. Saya cuma menggeleng.

"Saya ingin menjadi anak yang shaleh, yang bisa menjadi penolong bagi ibunya di akhirat kelak, " ujarnya. Teman saya pun bercerita tentang ibunya dan bagaimana ia sangat mencintai sang ibu dan bercita-cita ingin membahagiakannya. Saya melihat ada yang menggenang di pelupuk matanya, ketika teman saya itu menceritakan tentang sang ibu. Saya cuma diam, tak berkomentar.
"Ada tiga hal yang bisa membuat saya menangis, " katanya lagi.
"Apa?" tanya saya.
"Pertama, kalau saya mengingat ibu saya. Kedua, ketika saya membaca arti ayat-ayat al-Quran, dan ketiga, ketika saya membaca dan mendengar kisah-kisah perjuangan di Palestina. Saya bisa menangis, karena saya merasa amaliyah saya di dunia ini masih sangat sedikit... " tutur teman saya. Sorot matanya memancarkan kegelisahan.

Kali ini, saya betul-betul merinding mendengar penuturannya. Tiba-tiba saja seperti ada pisau yang amat tajam yang mengiris jiwa saya. Selama ini, tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk menghitung amalan saya di dunia, apakah sudah cukup bekal saya jika sewaktu-waktu dipanggil sang kuasa. Selama ini, saya hanya berempati dengan penderitaan saudara-saudara saya di Palestina, tapi tak pernah menangis memikirkannya. Selama ini, rasanya saya tidak memiliki cinta sebesar cinta yang dimiliki teman saya itu pada sang bunda. Tiba-tiba saja, saya merasa begitu kerdil dan merasa iri melihat cara berpikir teman saya itu yang ternyata lebih dewasa dari usianya.

Saat sholat ashar sore itu, saya betul-betul menangis di hadapanNya, menangisi segala kekurangan, kelemahan dan kebodohan saya selama ini. Memohon ampunan atas segala kesalahan dan sebulat tekad untuk membenahi diri dan menjadi orang yang lebih baik, teriring rasa syukur karena telah memberikan seorang teman yang telah menjadi cermin kebaikan bagi saya.
"Teman, hanya doa yang bisa aku panjatkan, sebagai rasa terima kasih, semoga Allah swt mengabulkan semua cita-citamu dan tetap membimbingmu agar senantiasa menjadi cermin kebaikan bagi orang-orang di sekitarmu... " amiin

Jakarta, 9 November 2007
(Catatan kecil buat seorang teman, GSS, thanks ya bro...)

Readmore »»

Rabu, 31 Oktober 2007

Menyemai Cinta dengan Salam

Oleh Fery Ramadhansyah

Satu ketika Tufail bin Ubai bin Ka’b mengikuti Abdullah bin Umar berjalan ke sebuah pasar. Dilihatnya Abdullah tadi mengucapkan salam kepada semua orang yang dijumpainya baik yang dikenal ataupun tidak. Lantas Tufail pun bertanya kepadanya; wahai Abdullah, kenapa engkau pergi ke pasar. Padahal engkau tidak berbelanja. Kemudian dia menjawab; aku pergi ke pasar cuma untuk sekedar salam. Karena salam menghantarkan seseorang masuk ke dalam surga.

Ucapan salam memang sederhana. Hanya dengan ucapan “assalamu’alaikum” seseorang tanpa disadari sebenarnya ia telah menaburkan benih-benih cinta terhadap sesama. Sebab salam bukan sekedar ucapan yang terlintas untuk basa basi saja, melainkan di dalamnya mengandung doa.

Rasullullah saw bersabda: “Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak bisa beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu aku beritahukan sesuatu jika kamu melakukannya maka kamu akan saling mencintai. Tebarkanlah salam. ” (HR Muslim)

Mengucap salam tidak sama dengan ucapan yang lain. Kita sering mendengar ucapan “selamat pagi, selamat siang, selamat sore ataupun selamat malam”. Semua ucapan ini memang baik diucapkan, namun ucapan tersebut meskipun menempati posisi “ assalamu’alaikum” akan tetapi sifatnya temporal. Kalau hendak mendoakan, kenapa harus terikat waktu seperti ucapan selamat pagi dan lainnya. Oleh karena itulah kalimat “ assalamu’alaikum” tidak menyertai waktu. Itu artinya, setiap orang yang mengucapkan salam kepada orang lain berarti ia mendoakan keselamatan padanya sepanjang masa.

Ditinjau dari aspek sosial, salam merupakan penguat hubungan seseorang dengan yang lain. Walau hanya berpapasan, kemudian mengucapkan salam tentunya orang lain merasa senang karena didoakan. Doa yang meluncur tanpa pamrih dan tanpa diminta itu akan membuat jalinan tali cinta terhadap sesama. Sehingga, bagi siapa yang diberikan salam maka sepatutnyalah ia memberikan sekurang-kurangnya salam yang sama.

Firman Allah swt: “ Apabila kamu diberi salam dengan satu salam, maka balaslah salam itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86)

Inilah rahasia di balik salam itu. Salam bisa menjadi pengait hati satu sama lain karena di dalamnya terkandung doa sekaligus penghormatan. Kalau setiap orang bisa saling menghormati di jalan atau setiap kali bertemu, bukankah yang akan timbul adalah rasa cinta. Dan mencintai sesama termasuk salah satu takaran sejauh mana iman yang dimiliki seorang muslim.

Rasulullah saw bersabda: “ Tidak beriman seseorang di antara kamu sampai kamu mencintai saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiri” (HR Bukhari)

Readmore »»

Jumat, 26 Oktober 2007

Road Map to Halal Bi Halal DT 1428 H

Assalamu'alaikum wr. wb.

Salam Ukhuwah Silahturahmi !
Bulan keberkahan telah terlalui, Hari kemenangan telah terlewati
Semoga masih diberi kesempatan menemuinya kembali di tahun depan
Tali silahturahmi telah terajut, Kebersamaan telah terjalin
Dengan Halal bi halal semoga rajutan dan jalinan itu makin erat

Daarut Tauhiid akan mengadakan halal bi halal 1428 H !
Mau tau ramenya kayak apa ? Ya datang aja sendiri, ga usah bingung dan ragu
Kerinduan untuk saling bertemu, saling berkenalan dan bersilaturahmi sesamamember begitu membuncah. Halal bi halal ini, sungguh begitu dinantikan.

Bagi anda yang sulit datang ke acara MQS, inilah saatnya anda untuk terlibat langsung, mengenal dan merasakansecara langsung seperti apa MQS DT itu sesungguhnya.
Hari / Tanggal : Ahad, 28 Oktober 2007
Di : Mesjid DT II Jakarta, Jln.Suka Mulya Rt 001/09 Kampung Dukuh Desa, Serua Indah Ciputat, Tangerang-Banten.
Pukul : 09.00 – Selesai
(Bagi sahabat yang belum mengetahui lokasinya, ditunggu di DT Cipaku, hingga pukul 08.00, kita berangkat sama-sama, Insya Allah disediakankendaraan, karena itu wajib daftar)Acara : - Silaturahim dan Tausyiah serta halal bi halal

Ayo, kita hadiri bersama-sama acara kita ini.
Di samping menikmati acara yang disuguhkan oleh Daarut Tauhiid, kita akan saling berkenalan danbersilaturahmi.

JANGAN SAMPAI KETINGGALAN DAN RAGU !!!.
Jangan cuma di online email MQS aja, itu baru luar'-nya aja, apalagi bagi member baru.
Sebagai jaringan ilmu, mari bersilahturahmi secara offline di ajang Halal Bi Halal DT ini.
Rasakan kebersamaan, kehangatan dan keakrabannya !.

Mo lebih jelasnya lagi silahkan klik http://menujuqolbunsalim.blogspot.com/

Jazakumullah khoiron katsiiroo.
Wassalamu'alaikum, wr.wb.

Readmore »»

Rabu, 24 Oktober 2007

"Tinggalkan yang haram, dapat yang halal"

Suatu malam yang hening, kelihatan seorang lelaki berjalan-jalan di sekitar Madinah dalam keadaan lapar. Dia berhenti di luar sebuah rumah kerana tercium bau makanan. Imannya belum cukup kuat untuk membuat pertimbangan yang sadar dalam memicu tindak tanduknya. Kerana terliur dengan makanan itu, dia menyusup masuk ke dalam rumah tanpa izin tuan rumah tersebut.

Melihat makanan yang menggiurkan di satu sudut rumah, dia segera mencapainya. Tetapi tiba-tiba dia teringatkan sesuatu. Kata-kata yang didengarnya daripada Rasulullah s.a.w dalam satu majelis ilmu di Masjid Nabi siang tadi terlintas dibenaknya. Rasulullah berpesan, “Barangsiapa meninggalkan yang haram, dia akan mendapat yang halal.” Mengingatkan kata-kata itu, dia tidak jadi untuk mengambil makanan tadi. Dia hendak segera pergi, tetapi ada godaan lain pula. Telah terlihat olehnya barang perhiasan. Kalau dia ambil, tentu tidak ada siapa tahu. Segera barang perhiasan itu digenggamnya. Namun sekali lagi niat jahatnya dimatikan.
Teringat lagi dia kepada pesan Rasulullah s.a.w, “Tinggalkan yang haram, dapat yang halal.”

Diletak kembali barang yang berharga itu. Haram mengambil barang milik orang lain. Namun, sebelum dia pergi…datang lagi satu godaan yang lebih besar. Dadanya berdebar kencang ketika melihat seorang wanita cantik sedang lena tidur di kamar peraduannya. Pintu kamar itu dilangkah masuk. Wanita itu didekatinya. Tangannya menggetar, peluh memercik membasahi tubuh. Nafsu membisikkan kata-kata indah untuknya. Berlaku perebutan nafsu dan bisikan kata-kata Rasulullah s.a.w, ” Tinggalkan yang haram, akan dapat yang halal.”

Akhirnya dia beristighfar dan perlahan-lahan pergi. Berkat pesanan Rasulullah s.a.w yang melekat di sanubarinya, dia berjaya mematahkan keinginan nafsunya. Kelegaan yang amat sangat terasa di hatinya ketika keluar dari rumah wanita tadi dan kemudian memijakkan kaki di Masjid Nabi.

Kerana berhasil dalam peperangan sengit mengalahkan nafsu yang mengajak kepada yang haram, dia diberi ketenangan yang luar biasa oleh Allah SWT. Seketika kemudian, subuh tiba. Selepas solat subuh berjemaah, lelaki itu merebahkan diri di masjid kerana terlalu mengantuk akibat berjaga semalaman. Ketika matahari telah meninggi, seorang wanita datang bertemu dengan Rasulullah s.a.w di masjid. Dia mengadu rumahnya dimasuki orang. Dia takut diganggu lagi, lalu memohon mendapakan seorang pengawal yang dapat menjaga harta bendanya. Setelah ditanya, rupanya si wanita itu seorang janda. Baginda memandang sekeliling kalau-kalau ada orang yang dapat menjaga wanita itu. Melihat lelaki yang sedang tertidur di suatu sudut masjid, baginda menemuinya. Ditanyakan siapakah gerangannya dan adakah dia telah beristeri. “Saya seorang duda,” jawab lelaki itu yang hidupnya kurang terurus selepas kematian isterinya. Baginda bertanya apakah kedua-dua janda dan duda itu bersetuju untuk dijodohkan. Mereka berdua tersipu malu.

Kerana terharu dengan pilihan Rasulullah s.a.w dan teringat perbuatannya malam tadi, lelaki itu tidak dapat menahan diri daripada menangis lalu menceritakan apa yang sebenarnya berlaku di rumah wanita tersebut. Lalu, dia bertaubat. Akhirnya Rasulullah s.a.w berkenan menikahkan lelaki dan wanita itu dengan disaksikan oleh para Sahabat. Demikianlah, berkat meninggalkan yang haram, dia mendapat yang halal sebagai gantinya. Kini, wanita cantik itu dan segala di dalam rumah itu menjadi halal baginya.

by www.ttuyup.blogspot.com

Readmore »»

Rabu, 19 September 2007

Syukur, Kunci Hidup Bahagia

oleh Ahmad Novriza Nasution

Bahagia adalah sesuatu yang diharapkan dan diidam-idamkan
setiap orang yang pernah hidup di atas dunia. Tidak ada satupun orang yang tidak ingin hidupnya senang dan bahagia, bahkan jika pernah sekali waktu kita mendengar ucapan, “Biarlah aku menderita dan tidak mendapatkan apa-apa asalkan anakku bahagia”, yang diucapkan oleh seorang orang tua karena sangat sayangnya kepada sang anak, sebenarnya Sang orang tua tersebut sedang mencari kebahagiaan dengan memilih cara berkorban perasaan buat anaknya.
Pembicaraan mengenai kebahagiaan sangatlah menarik untuk dibahas. Mengapa? Karena selain alasan tersebut di atas, rasa bahagia dan tidak bahagia bisa berganti dalam sekejap mata. Pernahkan anda merasa senang dan happy pada saat siang tapi ketika sore perasaan itu seolah hilang entah ke mana tak tahu rimbanya. Bahkan sambil bertanya-tanya dalam hati kita terus mencari-cari ke mana rasa bahagia yang barusan atau beberapa jam yang lalu sedang kita nikmati dan kita rasakan.

Penyebab Rasa Bahagia dan Tak Bahagia
Tiap orang tentulah berbeda-beda apa yang menyebabkan timbulnya rasa bahagia atau tidak bahagia. Jangankan untuk orang yang berbeda, untuk anda sendiri pun, bisa merasakan dua hal tersebut dengan sesuatu yang sama tapi kondisi yang berbeda. Anda mungkin sangat bahagia ketika mempunyai isteri yang sangat cantik dan rupawan, yang hanya memandangnya saja gairah dan semangat anda sebagai seorang suami menjadi luar biasa menggelora. Dalam hitungan detik anda bisa tidak bahagia dan terganggu dengan orang yang usil memperhatikan isteri anda dari ujung kepala sampai kaki sambil tersenyum-senyum. Perasaan cemburu dan tidak senang menggantikan perasaan bahagian anda. Atau contoh lain ketika anda begitu bahagia di kantor karena ada berita kenaikan gaji, akan menjadi berbeda rasanya ketika anda menceritakan hal ini kepada isteri anda, isteri anda bukannya bersyukur dan mencium tangan anda malah menyusun daftar barang-barang yang akan dibelinya. Bahkan dalam hitungan detik rasa bahagia bisa meluap entah ke mana.

Di manakah Kebahagiaan?
Ada sebuah pernyataan seorang psikolog di salah satu tulisannya menyebutkan, jika anda meletakkan kebahagiaan di luar diri anda maka anda tidak akan pernah merasa bahagia. Kita tak memerlukan apa-apa untuk bahagia. Kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, permasalahannya adalah kita sering kali mencari keluar diri untuk menemukannya.

Pernahkah anda mencari tahu dalam diri anda sendiri berapa banyak rasa bahagia dan tidak bahagia anda rasakan dalam satu hari? Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan mana yang lebih sering anda rasakan, bahagia atau tidak? Tuliskan dalam hati anda apa saja yang membuat anda tidak senang hari ini? Lanjutkan dengan apa saja yang membuat anda senang dan bahagia hari ini?

Kenapa Kita perlu Merasa Bahagia
Alangkah tidak enaknya hidup ini jika kita tidak tahu kenapa kita mesti ada di dunia ini. Begitupun alangkah beruntungnya kita, jika setiap udara dan nafas yang kita tarik kita mengerti siapa yang memberikan, berapa lama kita bisa rasakan. Mari setidaknya kita membuat sedikit hitung-hitungan. Bukan dengan maksud hendak menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita karena pasti kita tidak akan sanggup menghitungnya. Tapi saya hanya sekedar mengajak anda rileks dan mari mulailah menghitung. Periksa apakah masih ada detak nadi dan jantung kita. Coba perhatikan sekeliling anda, apakah masih berfungsi dengan baik penglihatan anda, apakah masih bisa kita membedakan warna-warna yang ada di jalan, rumah, atau sekitar kita. Cobalah pulang ke rumah, tatap kecantikan dan rasakan penghormatan serta kesetiaan isteri anda yang begitu dalam terhadap anda. Raih gapaian anak-anak anda yang lucu dengan tatapan matanya jika anak anda masih balita dan baru akan tumbuh. Teruslah mencari dan menghitung, dan rasakanlah keajaibannya.

Tambah Syukur = Menambah kebahagiaan
Kata syukur adalah kata yang berasal dari bahasa arab dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) Rasa terimakasih kepada Allah, dan (2) Untunglah (menyatakan lega, senang, dan bahagia.). Dalam Al-Quran kata ”syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Persoalannya sekarang banyak orang yang tidak meyakini dan akhirnya merasakan keajaiban rasa syukur kepada sang Maha Pencipta yakni Allah SWT. Banyak juga rasa bahagia itu sama sekali tidak muncul karena dibutakannya mata hati kita dalam menikmati dan menghayati ayat-ayat Tuhan dalam diri dan kehidupan kita sehingga kita lupa untuk bersyukur. Jadi bagaiman caranya agar Kebahagian bisa kita rasakan? Jawabannya adalah tambahlah rasa syukur kepada Allah atas setiap karunia yang diberikannya kepada kita. Adakah yang mau menjual seharga 100 juta rupiah untuk dua bola matanya. Ataukah ada yang ingin menjual sepasang lengan dan kakinya untuk sebuah rumah. InsyaAllah saya lebih memilih tidak dan mengharapkan pertolongan Allah dan bersyukur saja untuk memperolehnya.

Syukur Hanyalah Kunci
Tentu saja seperti kata Aa Gym, syukur adalah sekedar kuncinya. Sementara agar dapat menggerakkan kunci dan membuka lemari haruslah dengan ikhtiar dan sungguh-sungguh, diiringi dengan doa mengharapkan pertolongan Allah dan kepasrahan kepada-Nya agar kunci tidak patah dan kita bisa menikmati hidangan di dalam lemari dengan enak dan nyaman.

Mencontoh Rasululullah SAW
Dalam sebuah riwayat diceritakan suatu malam Rasulullah Muhammad SAW shalat malam hingga kaki beliau bengkak, isteri beliau Aisyah ra bertanya, kenapa Rasulullah SAW melakukan hal ini, padahal dia adalah kekasih dan utusan Allah, orang yang ma’shum diampunkan Allah dosanya. Rasulullah SAW hanya membalas dengan menyatakan bahwa ia hanya bersyukur kepada Allah. Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran harus ditujukan kepada Allah Swt.
Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Wassalam

Readmore »»

Kamis, 13 September 2007

Ahlan Wa Sahlan Sahabat MQS

Bismillahirrahmanirr ahim
Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mohon Maaf Lahir & Batin
Atas segala kekhilafan & dosa yang telah dilakukan,
atas segala perbuatan yang tidak berkenan


MARHABAN YAA RAMADHAN
Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim

Marhaban Ya Sahabat
Senang dan gembira bisa bersilahturahmi dgn sahabat semua
Alhamdulillah, telah hadir media blog dakwah MQS
Ini baru tahap awal masih banyak yang perlu di perbaiki dan di tingkatkan
Mohon saran, masukan, kritik membangun dan doa
agar Dakwah MQS lebih baik lagi

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1428H
SELAMAT DATANG PARA SAHABAT

Semoga Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan kemarin
Smoga dgn silahturahmi ini dapat mempererat ukhuwah kita
Smoga Alloh melimpahkan rahmat, barokah dan karuniaNya kpd para sahabat yg berkunjung
Ya Alloh Ya Rahman Rohim, kabulkanlah dan memudahkan sgala hajat para sahabat
Allahumma Amiin.

Jazakumullahi khoiron katsiron.
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Readmore »»

Kamis, 30 Agustus 2007

MQS 23


Readmore »»