~ Jazakalloh Khoiron Katsiro atas kehadiran n supportnya dlm acra mabit MQS PI Thn baru 1432 Hijriah, smoga dpt brmanfaat n mnjadi jln amal n elmu. Amiin.. ~

Selasa, 30 November 2010

MABIT MQS PI TAHUN BARU 1432 HIJRIYAH

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ikuti MALAM MUHASABAH MENUJU QOLBUN SALIM edisi Tahun Baru 1432 Hijriyah, dengan tema: “MENGHADIRKAN SAKINAH DIRUMAH KITA”

Waktu :
Senin 6 Desember 2010
Pukul 18:00 s.d 06:00 keesokan harinya (menginap/mabit)Bertempat di Masjid Raya Pondok Indah, Jl. Iskandar Muda no.1
Pondok Indah Jakarta Selatan.


Nara Sumber :
- Ustadz Muhsinin Fauzi Lc, MM (Pimpinan Lembaga Konsultasi Islam Formula Hati),
- Ustadz Anwar Anshori Mahdum (Pengasuh acara Getar Kalam Radio Dakta FM),

Qiyamullail dan Muhasabah :
- Ustadz Abdul Aziz Abdur-Rauf, Al-Hafizh (Markaz Al-Qur an) dan Tim Asaatidz DT Jakarta.


Agenda :
Kajian Tematis & Dialog interaktif - Qiyamullail – Muhasabah.

Acara terselenggara kerjasama Yayasan Daarut Tauhiid Jakarta dengan Yayasan Masjid Raya Pondok Indah.

Acara terbuka untuk umum (Ikhwan dan Akhwat) dan Gratis.
Dimeriahkan stand Bazzar produk Islami dan konsumsi.

Informasi hubungi :
Humas DT Jakarta 021-7235255/93455129,
MQS Hotline 021-70145049,
Masjid Raya Pondok Indah 021-7666165/7666766.


Ladang beramal untuk bisa ikut menginformasikan acara kegiatan ini dan semoga Alloh SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Readmore »»

Senin, 01 November 2010

KEUTAMAAN SEPULUH HARI DZULHIJJAH DAN AMALAN-AMALAN YANG DISYARI'ATKAN

Segala puji hanya milik Allah ta'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada utusan Allah, Nabi Muhammad r, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Keutamaan Sepuluh Hari Dzul Hijjah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas t, bahwasanya Rasulullah t bersabda:

{ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أََحَبُّ إِلَىاللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ }

"Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".

Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah r bersabda:

{ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد ِ}

"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".

Begitu pula Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Jabir t, bahwa Rasulullah r bersabda:

{ أَفْضَلُ الأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ }

"Hari yang paling utama adalah hari Arafah"

Amalan-Amalan Yang Disyari'atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah

* Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah r yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:

{ اَلْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ }

"Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga"

Dan banyak lagi hadits-hadits yang lain.

* Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta'ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy:

{ اَلصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ }

"Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku"

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry t berkata, Rasulullah r bersabda:

{ مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا }

"Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya". (Muttafaq Alaih).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah t, bahwa Rasulullah r bersabda:

{ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ }

"Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya"

* Membaca takbir (Allahu Akbar) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta'ala berfirman:

{ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ َ} (27) سورة الحـج

"Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan". (QS. Al Hajj: 28).

Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah.

Para ulama berpendapat bahwa disunahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, termaktub dalam musnad Imam Ahmad:

{ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ }

"Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid"

Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua.

Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:

اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian"

Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

Allah berfirman:

{ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ } (185) سورة البقرة

"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al Baqarah: 185).

Tidak diperbolehkan melantunkan takbir secara jama'i (bersama-sama dengan satu suara), karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh para ulama salaf, karena yang sesuai dengan sunah Nabi adalah bertakbir sendiri-sendiri tidak bersama-sama.

Dan inilah cara yang disyari'atkan pada setiap dzikir dan do'a, terkecuali bila ada seseorang yang tidak mengetahui maka boleh dibaca bersama-sama dengan tujuan untuk mengajarkan.

Dan dibolehkan berdzikir dengan semampunya dari berbagai macam takbir, tahmid, tasbih dan do'a-do'a lain yang disyari'atkan.

* Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat-Nya, sedangkan keta'atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda:

{ إِنَّ اللهَ يُغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ اْلَمْرءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ }

"Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya"( Muttafaq 'alaih).

* Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.

* Disyari'atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama'ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.

* Disyari'atkan pula qurban pada hari raya Iedul-Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim 'alaihissalam, di saat Allah menebus Ismail 'alaihissalam (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah r berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing. (Muttafaq 'alaihi ).

* Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi r bersabda,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan," Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya".

Barang kali hal tersebut diserupakan dengan seseorang yang menggiring sembelihannya, Allah ta'ala berfirman:

{ وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُِ} (196) سورة البقرة

"Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya". (QS. Al Baqarah: 196).

Teks larangan di atas khusus untuk pemilik hadyu (hewan sembelihan yang dibawa dari negri seseorang yang melakukan haji) tidak termasuk istri dan anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban khusus, dan tidak mengapa membasuh kepala dan menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.

* Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Ied, mendengarkan khutbah, mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari'atkannya shalat Ied, yaitu: hari untuk menggemakan kesyukuran dan beramal kebajikan.

Bukan menodai hari ini dengan kebanggaan dan kesombongan, serta tidak menghabiskan waktu untuk hura-hura dan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan, semisal; dansa, ke diskotik, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang akan menghapuskan segala pahala amal shaleh di sepuluh hari Dzul Hijjah.

* Akhirnya hendaknya setiap muslim dan muslimah memanfaatkan semaksimal mungkin hari-hari ini untuk ketaatan kepada Allah, dzikir dan syukur kepada-Nya serta memenuhi semua kewajiban dan menjauhi setiap larangan begitu pula meraih karunia-karunia Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.

Dan hanya Allah pemberi taufiq dan hidayah kejalan yang lurus, mudah-mudahan Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

izin cetak No: 1218/5 tanggal 1/1/1409 H.

Diterbitkan oleh Biro Percetakan Dirjen Penelitian Fatwa, Dakwah dan Bimbingan.

Di tulis oleh hamba yang membutuhkan ampunan Rabbnya:

Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin.

(Anggota Badan Fatwa)

Readmore »»

Senin, 11 Januari 2010

Jagalah Allah, Niscaya Dia Menjaga Kamu

oleh Ika Yuniar 

Sumber : eramuslim.com

Seorang teman bercerita tentang indahnya penjagaan Allah. Temanku ini merasakan bahwa orang-orang disekelilingnya diberikan ilham oleh Allah untuk menjaganya dari perbuatan yang tidak membawa manfaat.

Dia bercerita bahwa seringkali teman kantornya mengingatkannya untuk shalat di tengah sibuknya pekerjaan. Selain itu, beberapa kali dia terselamatkan dari memakan makanan haram karena ada yang mengingatkannya. Seorang pelayan toko pernah menolak keinginan temanku ini untuk membeli nasi goreng yang ternyata bercampur daging haram dan di suatu pesta, seorang ibu mengingatkannya untuk tidak memakan suatu hidangan yang juga ternyata tidak halal.

Dia percaya bahwa penjagaan Allah bukanlah suatu peristiwa eksklusif milik para Nabi dan orang-orang shalih, tetapi merupakan milik kita yang benar-benar mengusahakannya.

Temanku meyakini konsep penjagaan Allah yang ditemukan dalam salah satu hadis shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad. Ibnu Abbas ra berkata saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW, maka beliau bersabda „hai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Dia menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapatinya di hadapanmu. Apabila kamu meminta (sesuatu) mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.

Dan ketahuilah, bahwa andaikan seluruh umat manusia berhimpun untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan bisa memberimu manfaat apa pun, kecuali suatu manfaat yang telah ditentukan Allah untukmu. Dan andaikan mereka berhimpun untuk mencelakaimu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan bisa mencelakaimu sedikit pun, kecuali hal itu memang sudah ditentukan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering“.

A’idh bin Abdullah Al-Qarni dalam bukunya Agar Dijaga Allah-Jurus Meraih Kesaktian Ilahi (Ihfazhillah Yahfazka) menuliskan bahwa kita dapat mengusahakan penjagaan Allah dengan bertakwa; meninggalkan apa yang Allah benci dan melakukan apa yang Allah perintahkan.

Menurut A’idh bin Abdullah Al-Qarni, cara konkrit yang kita bisa lakukan untuk menjaga Allah adalah menjaga shalat dan menjaga anggota tubuh seperti hati, lidah, telinga, mata dan perut dari perbuatan yang tidak membawa manfaat akan mendekatkan kita dengan penjagaan Allah. Menunaikan shalat tepat waktu, khusyuk dan berjamaah, menjaga hati dari riya, takabur, syirik, nifaq, menjaga perkataan adalah contoh-contoh usaha yang dapat kita lakukan untuk menjaga Allah.

Sebagai ganti dari usaha kita menjaga Allah, Allah akan menjaga agama dan hati kita. Sangat mudah bagi Allah untuk menggerakkan orang-orang di sekeliling kita untuk menjadi pengingat dan penjaga di kala kita lengah dalam urusan agama kita. Sangat mudah juga bagi Allah untuk memelihara kita di segala urusan dunia kita, menghindarkan kita dari segala bencana dan mempermudah segala urusan kita. Dan teramat mudah bagi Allah, untuk menundukkan makhluk-makhluk-Nya untuk membantu hamba yang menjagaNya.

Cerita Shilah bin Asyim di Khurasan, seorang ahli ibadah sekaligus seorang prajurit di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim, dapat menjadi ilustrasi betapa penjagaan Allah meliputi segala sesuatu. Dikisahkan Shilah memiliki kebiasaan untuk menunaikan shalat sunnah di kala semua orang tertidur. Setiap malamnya, dia shalat di tengah rimbunan semak di dekat pasukannya berkemah.

Suatu ketika, ketika Shilah sedang shalat, datanglah seekor singa. Shilah tetap meneruskan shalatnya walaupun singa tersebut mengancam keselamatannya. Dengan tenang, Shilah menyelesaikan shalat dua rakaatnya. Seusai shalatnya, Shilah menengok ke singa itu berujar lantang „Hai singa, jika kamu diperintahkan membunuhku dan memakanku, maka bunuhlah aku dan makanlah aku. Aku tidak membawa senjata apa pun, kecuali penjagaan Allah Taala. Tapi kalau kamu diperintahkan membunuhku, dan tidak pula diizinkan, maka pergilah dan biarkan aku meneruskan shalat“. Dengan izin Allah, singa itu pergi meninggalkan Shilah tanpa melukainya sedikitpun.

Cerita Shilah mungkin saja terjadi di kehidupan kita dalam bentuk lain. Di tengah kesusahan hidup yang kita alami, Allah bisa dengan mudah mengirimkan pertolongan melalui orang-orang di sekeliling kita atau dengan cara yang tidak disangka-sangka. Harga yang harus kita bayar untuk pertolongan dan perlindungan Allah tidaklah mahal. Hanya bermodalkan ketekunan untuk bertakwa, maka Allah akan menjaga kita.

Readmore »»